Showing posts with label Sejarah Daerah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah Daerah. Show all posts

Tuesday, September 26, 2017

TRADISI CAROK


Carok adalah sebuah pembelaan harga diri ketika diinjak-injak oleh orang lain, yang berhubungan dengan harta, tahta, dan, wanita. Intinya adalah demi kehormatan. Ungkapan etnografi yang menyatakan, etambang pote mata lebih bagus pote tolang (dari pada hidup menanggung perasaan malu, lebih baik mati berkalang tanah) yang menjadi motivasi Carok.
Semua kasus Carok diawali oleh konflik, meskipun konflik tersebut dilatarbelakangi oleh permasalahan berbeda (kasus masalah perempuan, kasus lainnya tuduhan mencuri, perebutan warisan, pembalasan dendam), semuanya mengacu pada akar yang sama, yaitu perasaan malo karena pelecehan harga diri (martabat). Untuk memulihkan harga diri yang dilecehkan, mereka melekukanCarok, yang ternyata selalu mendapat dukungan dari lingkungan sosial. Apapun caraCarok yang dilakukan, semua pelaku Carok yang berhasil membunuh musuhnya menunjukkan perasaan lega, puas, dan bangga. Pengertian harga diri (martabat) dalam kaitannya dengan perasaan malo yang ditimbulkannya ketika terjadi pelecehan, kedua hal ini merupakan faktor pemicu utama orang Madura melakukanCarok, selain faktor lainnya.
Pada masyarakat Madura, pelecehan harga diri sama artinya dengan pelecehan terhadap kapasitas diri. Padahal, kapasitas diri seseorang secara sosial tidak dapat dipisahkan dengan peran dan statusnya dalam struktursosial. Peran dan status sosial ini dalam prakteknya tidak cukup hanya disadari oleh individu yang bersangkutan, tetapi harus mendapat pengakuan dari orang atau lingkungan sosialnya. Bahkan, pada setiap bentuk relasi sosial antara satu orang dan yang lainnya harus saling menghargai peran dan status sosial masing-masing, akan tetapi ada kalanya hal ini tidak dipatuhi. Bagi orang Madura, tindakan tidak menghargai dan tidak mengakui atau mengingkari peran dan sosial pada gilirannya timbullah perasaan malo. Dalam bahasa Madura, selain kata malo, juga terdapat kata todus, yang dalam bahasa Indonesia selalu diterjemahkan sebagai malu. Dalam konteks kehidupan sosial budaya Madura, antara malo dan todus  mempunyai pengertian yang sangat berbeda. Malo bukanlah suatu bentuk lain dari ungkapan perasaantodus.
Pada dasarnya, todus lebih merupakan suatu ungkapan keengganan (tidak ada kemauan) melakukan sesuatu, karena adanya berbagai kendala yang bersifat sosial budaya. Misalnya, menurut adaptasi kebiasaan yang berlaku di Madura, seorang menantu ketika sedang berbicara dengan mertuanya tidak boleh menatap wajahnya secara langsung. Setiap menantu akan merasa todus  untuk berbicara kepada mertuanya dengan cara seperti itu. Jika kemudian menantu itu tidak disengaja melanggar adat kebiasaan ini maka dia akan merasa todus  kepada lingkungan sosialnya, dan akan disebut sebagai orang ta’tao todus (tidak tahu malu) ataujanggal (tidak mengerti etika kesopanan).
Dengan demikian, todus  muncul dari dalam diri seseorang sebagai akibat dari tindakan dirinya sendiri yang menyimpang dari aturan-aturan normatif. Sebaliknya,malo  muncul sebagai akibat dari perlakuan orang lain yang mengingkari atau tidak mengakui kapasitas dirinya. Orang Madura yang diperlakukan seperti itu sama artinya dengan dilecehkannya harga dirinya. Mereka kemudian akan selalu melakukan tindakan perlawanan sebagai upaya untuk memulihkan harga diri yang dilecehkan itu. Tindakan perlawanan tersebut cenderung sangat keras (dalam bentuk ekstrim adalah pembunuhan). Suatu ungkapan yang berbunyi ango’an poteya tolang etembang poteya mata (lebih baik mati daripada harus menanggung perasaan malo) memberi indikasi sangat kuat tentang hal itu.
Tindakan mengganggu istri orang atau perselingkuhan merupakan bentuk pelecehan harga diri paling menyakitkan bagi laki-laki Madura. Oleh karena itu, tidak ada cara lain untuk menebusnya kecuali membunuh orang yang mengganggunya. Dalam ungkapan lain, tindakan mengganggu istri disebut sebagai aghaja’ nyaba,yang pengertiannya sama dengan tindakan mempertaruhkan atau mempermainkan nyawa. Dalam kehidupan sosial di antara hak-hak dan kewajiban itu, boleh jadi hak-hak dan kewajiban masyarakat, misalnya dalam konteks Carok, perlindungan terhadap perempuan (istri), menjadi bagian dari kewajiban masyarakat, sehingga tindakan mengganggu kehormatan mereka selalu dimaknai sebagai tindakan arosak atoran (merusak tatanan sosial). Tindakan mengganggu kehormatan istri, selain dianggap tindakan yang melecehkan harga diri suaminya, juga dianggap merusak tatanan sosial. Oleh karena itu, menurut pandangan orang Madura, pelakunya tidak bisa diampuni dan harus dibunuh. Jika terjadi permasalahan berupa gangguan terhadap istri, ada dua alternatif yang akan dilakukan oleh seorang suami.
Orang Madura yang malo  karena dilecehkan harga dirinya kemudian melakukan Carok disebut sebagai pelaku Carok. Akan tetapi, ketika Carokbenarbenar terjadi, yang dimaksud dengan pelaku Carok adalah kedua belah pihak, baik pihak yang merasa harga dirinya dilecehkan (yang menyerang) maupun pihak yang dianggap melakukan pelecehan itu (yang diserang).

Apabila seorang laki-laki yang dilecehkan harga dirinya,namun kemudian ternyata tidak berani melakukan Carok, orang Madura akan mencemoohnya sebagai tidak lakilaki (lo’lake). Bahkan, beberapa informan justru menyebutnya sebagai bukan orang Madura, seperti dikatakan oleh Gutte Bakir, salah seorangblater dan jagoan didesanya. Katanya, “Mon lo’bangal aCarok ajjha’ngako oreng Madhura” (jika tidak berani melakukan Carok jangan mengaku sebagai orang Madura). Jadi, orang Madura melakukan Carok bukan karena semata-mata tidak mau dianggap sebagai penakut meskipun sebenarnya takut mati melainkan juga agar dia tetap dianggap sebagai orang Madura. Bila demikian halnya, Carok juga berarti salah satu cara orang Madura untuk mengekspresikan identitas etnisnya. Itu semua semakin memperkuat anggapan bahwa Carok bukan tindakan kekerasan pada umumnya, melainkan tindakan kekerasan yang sarat dengan maknamakna sosial budaya sehingga harus dipahami sesuai dengan konteksnya.

Friday, September 15, 2017

Sejarah Jerman

Sebenarnya bangsa Jerman berasal dari Skandinavia Selatan. Karena keadaan cuaca yang memburuk pada abad ke-2 SM, mereka terpaksa mengungsi ke selatan. Maka tibalah mereka di wilayah yang sekarang dikenal sebagai Jerman. Di sana memang sebagian besar masih hutan belantara, namun demikian bukan berarti daerah itu tidak bisa didiami. Saat pertama kali masuk ke sana, bangsa Jerman bertemu dan bergabung dengan suku Celtis dan terdampar di perbatasan kerajaan Romawi. Karena sulitnya bahan pangan pada saat itu suku-suku tersebut sering menjarah makanan dari kota-kota jajahan Romawi.

Tak heran, kemarahan  sudah barang tentu tidak terhindarkan. Bangsa Romawi tentu tidak mengizinkan kaum bar-bar (Bart = janggut) yang tidak berpendidikan ini memasuki kerajaan mereka seenaknya menjarah secara membabi buta. Untuk menahan serangan bangsa Jerman ke selatan ini, pada abad pertama atau kedua SM, mereka membangun Limes (sebuah benteng perbatasan yang melintang lebih dari 500 Km dan membelah Jerman pas di tengah-tengah). Limes ini memisahkan provinsi-provinsi taklukan Romawi dari wilayah-wilayah yang selanjutnya diduduki oleh suku-suku bangsa Jerman. Akan tetapi Jangan dikira bahwa perbatasan tersebut yang terjadi hanyalah perang melulu. Antara bangsa Jerman dan Romawi pun terjalin hubungan dagang.

Bukan hanya itu: Bangsa Jerman yang hidup di luar Limes, semakin lama semakin menyerap gaya hidup dan kebudayaan sang penakluk. Banyak yang mampu menjadi tentara Romawi dan bahkan naik pangkat.  Pertanyaannya adalah; Apakah dengan itu bangsa Jerman menjadi penerus sejati Romawi? Sama sekali tidak. Contoh yang paling jelas adalah Raja Cherusk Arminus. Meskipun ia belajar di Roma, ia menjadi simbol perlawanan terhadap penguasa asing. Pada tahun 9, tentaranya mengalahkan tentara Romawi di bawah pimpinan Varus di Hutan Teutoburg.

Jerman dulu kala Setiap suku bangsa memiliki kepala suku yang menguasai daerah bebas. Sejak saat itu semakin sering saja perampok keturunan Jerman menjarah kota-kota taklukan Romawi, bahkan kota Romawi tidak lagi aman dari jangkauan mereka. Tanggal 23 Agustus tahun 476 imperium dunia ini berakhir, kaisar terakhir Romulus Agustulus dijatuhkan oleh tentaranya sendiri. Kawasan yang dulunya dikuasai bangsawan Romawi, yakni sampai ke Spanyol dan Afrika Utara, Akhirnya Jaruh ke tangan bansa Jerman.

Sementara itu, bangsa Jerman tidak terlalu paham bagaimana harus mengurus peninggalan budaya dan arsitektur Roma, mereka merasakan adanya daya tarik magis yang kuat dari agama musuh yang mereka taklukkan. Para misionaris akhirnya dapat mengkristenisasi bangsa Jerman dengan cara membuktikan kepada orang-orang Jerman tentang ketidakberdayaan dewa-dewa mereka. Di dekat Geismar ada pohon Eik yang konon sudah diberkati Dewa Donar, mereka menebang pohon itu lalu membangun gereja dari kayu pohon tersebut.

Sejak Runtuhnya imperium Romawi, bangsa Prancis bangkit dan memimpin bekas jajahan Romawi, mereka dipimpin oleh seorang raja, yaitu Raja Chlodwig yang dibaptis oleh Paus pada tahun 498. Secara Politis raja Chlodwig berhasil menyatukan bangsa Prancis (baik dengan cara kekerasan), yang pada saat itu terbagi ke dalam beberapa kerajaan kecil. Dari Gallia dan kawasan Jerman (bekas jajahan Romawi), ia mendirikan kekaisaran baru, yaitu kekaisaran Prancis. Keluarga Merowinger (nenek moyang Chlodwig) menguasai kekaisaran ini selama berabad-abad tanpa gangguan yang berarti.

Dari wilayah selatan pasukan Arab bergerak maju menuju Gallia melewati semenanjung Iberia dan terjadi pertempuran sengit.  Dalam pertempuran di Poitiers (Perancis Selatan)  pada bulan Oktober 732, Karl Martel (seorang menteri Perancis) berhasil menahan dan memukul mundur pasukan Arab.  Pemenang  pertempuran di Poitiers (Karl Matell) adalah nenek moyang dinasti Karolinger. Dari generasi ke generasi mereka mengabdi pada raja-raja keturunan Merowinger sebagai menteri, namun pada akhirnya mereka merebut takhta pada penguasa terakhir dari dinasti Merowinger.   

Karl der Groβe

Penguasa yang paling terkenal dari dinasti Karolinger adalah Karl der Groβe (Karl yang Agung). Pada awalnya dia harus berbagi kekuasaan dengan kakaknya, namun kematian dini sang kakak tahun 771 menjadikan Karl der Groβe sebagai penguasa tunggal. Ia mengembangkan wilayah kekuasaannya ke segala penjuru: ke Perancis Selatan dan Spanyol, ke Italia Utara dan Sakson. Karl der Groβe kemudian dinobatkan oleh Paus menjadi kaisar, kemudian ia menobatkan dirinya sendiri sebagai penerus penguasa Imperium Romawi. Suatu perbedaan dari kaisar-kaisar Romawi terdahulu; Karl der Groβe tidak mengendalikan pemerintahannya dari Roma. Baik ia maupun penerus-penerusnya sama-sama tidak menguasai ibukota dalam pengertian klasik. Mereka memerintah dari atas pelana dan berpindah-pindah dari satu puri ke puri lainnya. Tentu saja Karl der Groβe memiliki puri pavorit, yaitu Puri Achen. Tanggal 28 Januari 814 Karl der Groβe meninggal di Achen. Ornamennya masih utuh sampai saat ini; sebuah kapel segi delapan lengkap dengan takhta kekaisaran. Karl der Groβe bukan saja seorang politikus ulung, namun juga sangat menghormati pelestarian budaya dan ilmu pengetahuan.

Ludwig der Weise

Penerus Karl der Groβe adalah putera mahkota Ludwig der Weise. Ia berhasil menjaga keutuhan kerajaan, namun ia tidak berhasil menyamai keberhasilan ayahanda-nya yang banyak melakukan ekspansi kekuasaan. Pada tanggal 20 Juni 840 Ludwig der Weise meninggal dunia. Sepeninggal Ludwig der Weise terjadi perebutan kekuasaan oleh ketiga putranya. Perlu diketahui, dalam tradisi Jerman anak tertua tidak otomatis menjadi penerus. Hak waris harus dibagi rata kepada semua anak laki-laki (kedengarannya memang adil), tapi agak kontraproduktif jika menyangkut masalah kekuasaan yang luas.

Lothar  /  eKarl der Kahle  /  Ludwig der Deutsch

Ketiga putra Ludwig der Weise, yang haus dengan kekuasaan itu mengadakan perjanjian, yang dikenal dengan perjanjian VERDUN, yang membagi wilayah kerjaan Perancis menjadi tiga wilayah, yaitu: Lothar (mendapatkan kawasan tengah yang membentang dari Italia tengah melalui Lothringen sampai ke pantai laut utara), Karl der Kahle (mendapatkan kawasan Prancis Barat), dan Ludwig der Deutsche(Mendapatkan kawasan Perancis Timur).
Ketiga saudara ini mungkin tidak menyadari bahwa perjanjian yang telah mereka lakukan kelak akan menjadi landasan dalam pembentukan dua negara:  Prancis Barat (simpelnya menjadi negara Prancis sekarang), sedangkan negara Prancis Timur (Negara Jerman sekarang). Begitu pula negara-negara, yang berdiri di kawasan tengah, pada dasarnya mengacu pula pada perjanjian ini, demikian halnya batas-batas bahasa di antara masing-masing negara.
Karena yang menjadi tema bahasan kita di sini adalah sejarah Jerman, maka kita tinggalkan saja Prancis Barat dan alihkan perhatian kita selanjutnya terhadap segala kejadian di Perancis Timur (yang sekarang Jerman). Pemimpin terakhir dari dinasti Karolinger yang berkuasa di wilayah ini adalah Ludwig der Sohn (meninggal th. 911). Pemikiran rakyat Jerman pada saat itu adalah; Dari pada kembali bersatu dengan Prancis Barat (yang berarti harus takluk terhadap penguasa dari dinasti Karolinger), keturunan Perancis Timur lebih memilih raja yang bukan keturunan Karolinger. Setelah kematiannya pada bulan Desember 918 rakyat Perancis Timur tidak kembali ke pelukan keluarga Karl der Groβe, melainkan memilih Adipati Sakson “Heinrich” sebagai raja mereka. Hal ini menunjukkan sikap dewasa yang tidak lagi tergantung pada isu primordialisme sebagai keturunan Perancis.

Heinrich I  
Pria Sakson ini berhasil mengatasi segala kesulitan, terutama berkat kesediannya bekerja sama dengan pengusa-penguasa negara lain, dengan tidak memperlakukan mereka sebagai taklukan, melainkan sebagai partner. Heinrich dan para pengikutnya membangun kerja sama dengan gereja dan berhasil menjaga stabilitas keamanan politik dan ekonomi negeri Jerman.

Otto der Groβe

Penerus Heinrich I adalah puteranya, Otto. Pada awalnya ia harus bertikai dulu dengan sanak saudaranya, namun ia bukan hanya mampu mempertahankan mahkota dari segala rongrongan musuh saja, lebih dari itu, ia berhasil menetapkan aturan berupa penyerahan kekuasaan kepada putera mahkota. Otto berhasil menguasai seluruh kadipaten melalui jalinan pernikahan. Otto pun berhasil memposisikan dirinya sebagai seorang penerus kekaisaran Romawi. Di tangan Otto, para Paus ibarat bola mainan. Dua orang diantaranya ia tempatkan dalam pemerintahan. Ia bukan hanya sebagai penguasa Eropa, melainkan juga sebagai pemimpin rohani. Seperti juga pendahulunya Karl, ia pun dijuluki “Otto der Groβe”.

Kaisar-kaisar Jerman setelah Otto;

Setelah Otto mangkat, Takhta Kepausan mulai menguat, Raja Heinrich IV yang berusaha meniru para pendahulunya, yang ingin memegang kekaisaran Romawi dikucilkan oleh gereja. Raja Heinrich IV pun terpaksa pergi melintasi pegunungan Alpen padahal cuaca pada saat itu bersalju. Dia tahu; saat itu di wilayah Carnossa di Italia Utara bermukim Paus Gregor VII. Heinrich IV datang bukan dengan tujuan untuk berperang melawan sang Paus, melainkan dalam jubah seorang Penobat. Para bangsawan Jerman membujuknya untuk berdamai dengan sang Paus. Kalau tidak mereka tidak mau mengakuinya sebagai seorang Raja. Sang Paus membiarkannya menunggu berhari-hari dalam dingin yang kelu di depan gerbang, sebelum menerimanya dan memberi pengampunan dosa. Harga yang harus dibayar Heinrich cukup tinggi: Siapa yang masih sudi menghormati raja yang merangkak-rangkak ke gereja? Ataukah ini sebuah langkah cerdik yang ia lakukan semata-mata untuk menyelamatkan takhta?
Fridrich I th. 1152 . 

Fridrich I dikenal dengan sebutan Barbarossa (Rotbart = Janggut Merah). Bagi Fridrich, gelar kaisar Romawi bukan hanya bermakna simbolis semata-mata. Ia menginginkan seluruh itali tunduk pada kekuasaannya. Tahun-tahun selanjutnya Fridrich dan penerusnya semakin sering berkelana melintasi pegunungan Alpen, memenangkan pertempuran dan merayakannya, bahkan menjadikan wilayah itali selatan sebagai bagian dari kekuasaannya –sampai akhirnya gagal karena pada zaman itu sarana komunikasi dan alat kekuasaan belum menunjang untuk mengendalikan wilayah yang terbentang mulai dari laut Utara sampai ke Silsilia. Dinasti Staufer (keluarga besar Fridrich) berakhir di hadapan algojo, eksekutor hukuman mati atau merana lahir bathin dalam penjara musuh. Sejak itulah Jerman dimulai era yang mengerikan tanpa kaisar. 

Kehidupan masyarakat, Kesatria, Borjuis, dan Petani 

Dengan runtuhnya imperium Romawi, sebagian besar kota yang berada di Jerman pun turut tenggelam. Namun pada abad pertengahan (ke-12), sentra-sentra ini tumbuh kembali dengan wajah baru dan terbentuk pula begitu banyak kota-kota baru. Berkat perdagangan, kota-kota menjadi makmur dan banyak petani mengangankan untuk meninggalkan desa, lalu pergi ke kota. “UDARA KOTA MEMBAWA KEBEBASAN”, begitu pribahasa yang bisa pula diartikan secara harfiah. Akibat banyaknya migrasi ke Kota, maka bermunculanlah kaum borjuis yang berhasil menguasai perekonomian di kota-kota besar dan akhirnya mampu menyaingi kaum bangsawan.
Dalam bidang arsitektur gaya Gotik mendesak dominasi gaya Romanik. Para arsitek muda di Perancis sepanjang abad ke-12 lebih cenderung ke gaya bangunan gagah yang menjulang tinggi.  Maka berdirilah katedral dari Chartres dan Reims. Warga kota Köln, Freiburg dan kota-kota lainnya di Jerman berusaha meniru bangunan itu.
Kaum bangsawan pada umumnya merasa sebagai “tentara kristus”, seperti yang terlihat secara jelas dalam perang salib. Banyak priyai dari Jerman yang pergi ke Palestina dengan maksud untuk membebaskan tanah suci tersebut dari umat muslim, namun banyak yang tidak kembali lagi.

Akhir Abad Pertengahan –Masa Krisis

Abad pertengahan merupakan masa penuh gejolak dan krisis, kebangkrutan ekonomi dan otomatis perpecahan sosial. Namun yang terburuk adalah wabah penyakit pes yang merajalela, yang sering disebut  Der Schwarze Tod “sakaratul maut kelam”. Pada abad ke-14 wabah ini menyebar ke seantereo benua Eropa dalam beberapa gelomabng dan menghabiskan hampir seluruh penduduk di sebagian daerah.
Peristiwa keagamaan terbesar pada zaman ini adalah konsili paripurna di Konstanz. Lebih dari 3 tahun lamanya 29 Kardinal, sekitar 300 Uskup dan Monsinyur, 150 Raja dan kaum bangsawan bersidang di sebuah kota di Danau Konstanz, yang dipimpin raja Jerman Sigismund dalam rangka penetapan entitas dari Yesus Kristus. Tapi mengapa justru dipimpin oleh Raja dan bukan oleh Paus? Bukankah pemimpin tertinggi gereja adalah Paus? Masalahnya adalah bahwa sejak tahun 1490 terdapat tiga Paus. Sidang memutuskan dengan cara Voting (karena perseteruan dan kebuntuan), sang reformator Jan Hus, yang menuntut dikembalikannya kepapaan apostolos (Yesus Kristus) dan dengan pedas mengkritik lembaga kepausan, sebagai murtad akhirnya menjalani hukuman mati dengan dibakar tanggal 6 Juli 1415. Ketiga Paus yang saling berseteru di Konstanz dipecat dan kemudian siding memilih seorang pemimpin baru gereja yang diakui oleh semua pihak: Martin V. 

Abad 15 – Zaman yang Kondusif untuk Ilmu Pengetahuan dan Seni

Setelah masa pengap di akhir abad pertengahan, kerajinan tangan, ilmu pengetahuan dan seni mulai hidup lagi pada pertengahan abad 15.
 Di Mainz, Johannes Guttenberg menemukan mesin cetak dengan leter bergerak,
 Peter Henlein membuat konstruksi jam saku untuk pertama kali, 
Galileo Galilei dan Astronom Nikolaus Kopernicus berpendapat bahwa yang menjadi pusat tata surya kita adalah matahari dan bukanlah bumi (pendapat ini sangat ditentang gereja pada saat itu),
Albrecht Dürer salah seorang pelukis dan perupa ternama dalam sejarah seni Jerman untuk pertama kali mencantumkan inisial namanya dengan “AD”, yang sebelumnya belum pernah dilakukan oleh para pelukis di abad pertengahan, 
Ulrich von Hutten, philosof keturunan bangsawan Prancis ini memang dipuja dimana-mana, namun karena peringatannya terhadap bangsa Jerman agar menjaga persatuan dan kesatuan serta menghindari perang saudara, karena pamfletnya tentang keburukan gereja dan lembaga kepausan, Hutten kehilangan simpati dari semua pengikutnya, sehingga terpaksa harus melarikan diri ke Swiss.
Martin Luther
Seorang biarawan kecil yang mampu mengguncang kepercayaan penganut katolik. Martin Luther. Dalam 95 Thesisnya pada tahun 1517, ia membeberkan pandangan surat pembebasan dosa oleh gereja katolik. Dinasti Habsburg, yang sedang berkuasa merasa dikritik secara pedas. Bahwa orang bisa mensucikan jiwanya dengan uang, itulah yang sangat ditentang Martin Luther. walaupun ia tidak menempelkan sendiri tesisnya di pintu gereja istana Wittenberg, seperti kisah legenda, dampaknya tetap saja dahsyat. tesisinya itu merupakan cikal bakal refomasi di seluruh Eropa. Surat pembebasan doa yang diperdagangkan ini hanyalah pemicu. Lutter mengembangkan kritik semacam itu terhadap gereja katolik dan terutama terhadap Paus.
April 1521 Lutter dipanggil menghadap Karl V (sang kaisar dari keluarga Habsburg yang berkuasa di Jerman) di Worms. Namun siapa yang mengira bahwa biarawan keras kepala ini akan menganulir kritiknya, jelas keliru besar. Luther tetap saja pada pendirian yang telah diucapkan dan ditulisnya. Bagi gereja ia memang sejak dahulu sudah dianggap murtad, sekarang sang kaisar Karl V memperjelas statusnya menjadi penjahat tanpa perlindungan hukum. Namun berbeda dari Jan Hus di Konstanz, Luther tiba di Worms dengan selamat dan mendapatkan perlindungan dari Adipati Fridrich dem Weisen dari Sakson. Di sana ia menerjemahkan injil ke dalam bahasa Jerman. Skandal sungguh-sungguh menjadi lengkap, ketika Martin Luther membangun sebuah keluarga dengan menikahi mantan biarawati Katharina von Bora tanggal 13 Juni 1525. Karena status lajang seorang pastor tidak bisa diterima oleh sang reformator “Martin Luther” yang semakin banyak pengikutnya ini. Sejak saat itu umat protestan dan katolik di Jerman saling bermusuhan satu sama lain. Perang pun berkecamuk selama 30 tahun lamanya yang memakan korban sangat banyak dan diakhiri dengan perjanjian perdamaian di Ausburg tahun 1555. Umat protestan dan katolik bersepakat bahwa penguasa setempat yang boleh menentukan agama yang dianut penduduk di wilayahnya. Kaum bangsawan dan priyai bebas memilih agama apa yang mereka anut, namun tidak demikian halnya dengan rakyat jelata, mereka harus mengacu pada pimpinan masing-masing.
Perang 30 tahun berdampak hancurnya demikian banyaknya kota dan desa, dan kepedihan yang tak terperikan. Meskipun sudah terjadi perjanjian perdamaian akan tetapi perdebatan mengenai agama di Eropa belum juga berakhir. Raja Ludwig XIV dari Perancis memberlakukan sebuah keputusan beragama bagi kaum Hugenott, yaitu julukan bagi kaum protestan di Perancis. Mereka dihadapakan pada pilihan, bertobat dan pindah ke agama katolik atau meninggalkan Prancis. Di seberang sana, di Berlin, Raja Fridrich Wilhelm von Brandenburg yang mendengar terhadap penistaan terhadap saudara seimannya menjadi sangat marah. Namun ia juga melihat tragedi pengusiran orang-orang ini sebagai sebuah kesempatan bagi negerinya yang hancur lebur dan kehilangan banyak penduduk selama perang 30 tahun tersebut. Orang-orang, terutama orang yang terlatih, para pengerajin ulung, baginya adalah harta yang amat berharga. Raja Fridrich Wilhelm mengundang mereka untuk datang kepadanya. 
Pada tahun 1683 Raja Fridrich Wilhelm (sang kaisar) bermukim di Wina. Kota yang terletak di tepi sungai Donau ini (sekarang Austria) berada dalam bahaya besar karena bangsa Turki menyerang mereka, namun mereka dapat dipukul mundur oleh sang kaisar, ketika melarikan diri, bangsa Turki tidak hanya meninggalkan senjata mereka, permadani mahal dan barang pecah belah, namun juga berkarung-karung biji kopi. Dan jika orang jerman dan Austria sekarang lebih banyak minum kopi daripada orang manapun di belahan  daunia lainnya, maka itu terutama berkat mantan musuhnya yang ketika itu melarikan diri sambil meninggalkan sumber kenikmatan berharga ini, yaitu “kopi”.  

Abad Pencerahan (AUFKLARUNG)

Pada zaman Fridrich der Groβe, bahasa Jerman tidak pernah digunakan di puri-puri kerajaan. Bahasa kaum terpandang adalah bahasa Perancis. Itu semua kini berubah drastis. Abad pencerahan membuat Jerman berkembang dalam hal budaya. Yang meletakkan dasar perubahan ini adalah sang Filusuf besar Gottfried Wilhelm Lebniz pada akhir abad ke-17. Namun baru pertengahan abad ke-18 bermunculan para filosuf dan sastrawan Jerman klasik, diantranya: 
Gotthold Ephraim Lessing (drama-dramanya merupakan pembelaan yang amat mengesankan terhadap toleransi),
Immanuel Kant (mengajak orang menggunakan pikiran dan akal sehat),
Christopf Martin Wieland (menerjemahkan Shakespare ke dalam bahasa Jerman), 
Caroline Neuber (mengadakan pertunjukan “Theater Keliling” dalam spirit pencerahan),
Johan Sebastian Bach, Georg Fridrich Händel, Willibald Glück (para musisi handal),
Fridrich von Schiller dan Johann Wolfgang von Goethe  (Sastrawan Klasik Jerman),
Wolfgang Amadeus Mozart (Orang pertama penulis opera dalam bahasa Jerman),
Ludwig van Beethoven (Komponis handal yang pada masa tuanya nyaris tuli).
Masa keemasan bidang kebudayaan pada tahun-tahun tersebut diwarnai dengan guncangan dalam bidang politik : “Revolusi Perancis” tanhun 14 Juli 1789. Di Negara-negara Jerman pun hampir semua raja memiliki kekuasaan absolut dan mereka menatap cemas. Apakah kepala mereka juga akan dipenggal seperti yang terjadi di Negara tetangga mereka di Perancis.
Di Perancis, seorang bangsawan kecil dari Korsika yang dalam revolusi Perancis pertama kali muncul sebagai seorang jendral dan pada tanggal 2 Desember 1804 menobatkan diri sebagai “Kaisar Perancis” yaitu Napoleon Bonaparte. Napoleon sendiri tidak merasa puas hanya dengan perancis, impiannya tentu adalah seluruh Eropa. Para raja Jerman tidak memberikan perlawanan yang cukup berarti. Seluruh Jerman pun takluk dan para raja Jerman terpaksa menjadi sekutunya. Kaisar Austria bahkan harus menyerahkan puterinya untuk dijadikan istri Napoleon Bonaparte. Kerajaan Jerman (Prusia) yang sangat berkuasa dan dipimpin Fridrich Wilhelm III tunduk dalam sebuah perjanjian di Tilsit.
Reformasi ala Napoleon di Jerman dan di seluruh Eropa sebenarnya memiliki sisi positif pula; yaitu, Dengan kekuatan senjatanya Napoleon membuat banyak kemajuan, baik reformasi hukum, reformasi dibidang keuangan, hak kebebasan berusaha, emansipasi kaum yahudi, kebijakan plotik dan sosial, sedangkan dunia pendidikan direformasi secara mendasar oleh Wilhelm von Humbolt.
Negara Prusia (Jerman) yang kembali gesit berkat para reformator sekarang mampu memberikan perlawanan yang berarti terhadap penguasa Perancis (Napoleon Bonaparte). Raja menyerukan kepada rakyatnya untuk membebaskan diri dari pendudukan perancis. Hasilnya banyak para relawan, bahkan para mahasiswa angkat senjata. Orang-orang kaya Prusia juga ikut menyumbangkan perhiasan emas mereka untuk perang kemerdekaan ini. Dalam perang rakyat di Lepzig tanggal 16-19 Oktober 1813, Napoleon Bonaparte menderita kekalahan telak dan melarikan diri ke Perancis. Negara Jerman pun kembali bebas dari cengkraman Prancis.

Perkembangan Bahasa Jerman (DEUTSCH)

Jackob Grimm dan Wilhelm Grimm (Bruder Grimm) mengumpulkan dongeng-dongeng dan cerita-cerita lama, mulai dari kisah : Hänsel dan Gretel, Putri Salju (Schnewittchen), Hans yang beruntung (Hans im Glück), dan si Berkerudung Merah (Rotkäppchen). Selain mengumpulkan dongeng-dongeng Jerman, Bruder Grimm (Grimm bersaudara) juga meneliti bahasa Jerman begitu mendalam, sesuatu yang belum pernah dilakukan orang lain sebelumnya. Mereka juaga menerbitkan sebuah kamus bahasa Jerman.

Atmosfir Revolusi

Revolusi Perancis meninggalkan kesan yang kuat terhadap seluruh bangsa di Eropa. Di Negara-negara lain juga timbul kebangkitan, seperti : di Belgia, di Spanyol, di Swiss, di Polandia, dan tidak ketinggalan di Jerman. Tanggal 27 Mei 1832 sekitar 30.000 mahasiswa, pengerajin, warga dan petani berbondong-bondong menuju istana Hambach di Pfalz sambil mengacung-acungkan bendera Hitam-Merah-Emas. Mereka menuntut kebebasan politik dan penghapusan negeri-negeri kecil untuk dilebur menjadi Negara yang lebih besar. Raja-raja Jerman pun menjadi panik. Kerusuhanpun melanda Jerman. Di Berlin dan kota-kota lainnya para pemberontak berjuang melawan tentara. Raja Fridrich Wilhelm IV bahkan harus mengheningkan cipta untuk pejuang revolusi yang gugur dan menyematkan lencana Hitam-Merah-Emas kea rah bajunya (warna kebebasan).
Ketika terjadi revolusi tahun 1848, dua orang Jerman menerbitkan sebuah buku di Inggris. Dua Jerman ini adalah Karl Max dan Fridrich Engels, dan buku mereka yaitu “Manifesto Komunis”. Dari tulisan mereka tercipta ideologi baru, yaitu: Komunisme. Seruan mereka “Kaum proletar di seluruh dunia bersatulah!” menggema di seluruh benua.  Saat itu pula di Jerman terjadi revolusi sosial.
Dengan adanya revolusi sosial, bermunculan banyak pabrik di Jerman. Sebagaimana dalam banyak hal, industrialisasi mempunyai dua sisi: sisi pertama adalah kondisi kerja yang sangat buruk, sedangkan sisi kedua adalah Jerman menjadi bangsa industri yang membangkitkan kekuatan yang tidak terduga.

Penemuan dalam Berbagai Bidang Ilmu Pengetahuan

Dalam bidang penelitian dan teknologi dicapai banyak kemajuan, diantaranya yaitu: 
Justus von Liebig (meletakkan dasar kimia organik dan mempelopori aplikasinya di industri),  
Biarawan Gregor Mendel (menemukan teori pewarisan genetik dengan kacang buncisnya),
Robert Koch (menemukan basil TBC dan Kolera),
Wilhelm Conrad Röntgen (menemukan sinar yg dapat menembus semua materi yang dengannya memungkinkan dapat melihat ke dalam tubuh manusia),
Rudolf Virchow (menemukan ilmu patologi moderen, dan ia dapat menunjukkan betapa kotoran dan sifat tidak higienis mempunyai korelasi besar dengan timbulnya penyakit),
Nikolaus August Otto (menemukan mesin motor 4 tak yang dinamai berdasarkan namanya),
Rudolf Diesel (menemukan motor dengan sistem pembakaran, yang proses pembakaran bahan bakarnya terjadi dengan sendirinya karena tekanan tinggi di dalam silinder-silindernya, sehingga dicapai tingkat efektifitas yang sangat tinggi),
Otto Lilienthal (menemukan model sayap aerodinamika, yang memungkinkan mendarat dengan cepat ke tanah),
Ferdinand Graf von Zeppelin (menemukan pesawat Zeppelin yang berhasil terbang melintasi lautan Atlantik sampai ke Amerika),
Johann Philipp Reis (seorang ahli fisika, menemukan pesawat telepon pertama tahun 1860 dan dengan demikian –selain Alexander Graham Bell- berhasil merancang dasar-dasar komunikasi langsung yang bisa melampaui jarak ribuan kilometer jauhnya),
Werner von Siemens (membangun konstruksi mesin dinamo pertama kali dan mendirikan sebuah perusahaan sampai sekarang masih bergerak dalam bidang elektronik di Berlin),
Alfred Krupp (membuat pabrik baja cor an menjadi perusahaan bertaraf internasional),
Dalam dunia politik, Prusia dan Austria bertengkar memperebutkan supremasi di Federasi Jerman, akan tetapi karena goncangan politik, Austria tidak lagi menjadi bagian darinya dan menjadi kekaisaran sendiri dengan Wina sebagai pusatnya. 
Pangeran Leopold von Hohenzollem, masih kerabat raja Prusia ingin menjadi raja Spanyol. Prancis sama sekali tidak rela calon raja untuk negeri tetangga bagian selatannya adalah pangeran dari Jerman. Ini lah pemicu terjadinya perang Jerman-Perancis tahun 1870-1871. Pada tanggal 18 Januari 1871 tentara Perancis pun dapat dikalahkan oleh Wilhelm I  dan Kanselir Federal Jerman Utara Otto von Bismarck dan memaksa Kaisar Napoleon III turun takhta. Sejak kekalahan Perancis tahun 1871, perancis selalu ingin dan berusaha keras untuk melakukan balas dendam.

Perang Dunia I (1914-1918)

Perang meletus karena meledaknya tong mesiu di Balkan. Tanggal 28 Juni 1914 Putera Mahkota Austria, Franz Ferdinad dibunuh oleh seorang mahasiswa asal Serbia di Sarajevo. Pemerintah Jerman mendukung Austria untuk berperang melawan Serbia, di lain pihak Serbia didukung oleh Rusia. Maka meletuslah perang besar-besaran dimana Balkan sendiri tidak begitu berperan. Rakyat dari negara-negara yang terlibat perang maju ke medan perang dngan gagah berani, dan para serdadu dimana-mana disambut dengan sorak sorai kemeriahan, diantaranya terdapat seniman, kaum intelektual, mahasiswa, dan professor. Dari ruang kuliah Universitas mereka langsung pergi ke Parit-Parit (dikenal dengan perang parit) pertahanan. Tak disangka, apa yang sungguh akan mereka hadapi 4 tahun kemudian. Sebuah perang di mana pembantaian nyawa manusia terjadi secara besar-besaran.    
Teknologi perang semakin maju dan menciptakan senjata-senjata yang lebih dahsyat serta lebih mematikan. Para prajurit hanya menjadi santapan meriam semata. Zeppelin dan pesawat terbang dilengkapi dengan senjata otomatis dan bom. Dalam satu pertempuran saja di laut Skagerrak, 10.000 orang tewas hanya dalam beberapa jam saja. Panser untuk pertama kalinya menyelinap ke kancah peperangan ibarat banteng besi.
Jalur garis depan, terutama kawasan pertempuran Perancis, Belgia, dan Italia nyaris tidak mengalami perubahan selang beberapa tahun. Untuk menggoncang Rusia sekaligus membalikkan keadaan perang, diputuskan oleh komandan tertinggi militer atas persetujuan Raja Wilhelm II pada musim semi tahun 1917 untuk melakukan kontak dengan Vladimir Iljitsch Lenin (pemimpin partai Bolsewik) yang berada dalam pengasingan di Zurich. Lenin akan dibawa dengan sebuah kereta api khusus melintasi Jerman menuju tanah airnya (Russland). Harapan bersama antara Kaisar dan para jendral akhirnya terpenuhi. Belum sampai setahun setelah kepulangan Lenin, revolusi pecah di Rusia dan penguasa komunis yang baru (Lenin) bersedia membuat perdamaian khusus dengan Jerman. Namun kekuatan Jerman pada saat itu sudah payah dan sejak masuknya Amerika Serikat ke dalam kancah perang hanya tinggal masalah waktu saja untuk menghancurkan Jerman. Pada tanggal 9 November 1918 Jerman menyerah dan kaisar Wilhelm II pun turun takhta. Perang dunia satu ini pun memakan korban hampir 8 juta jiwa. Di Versailles dekat Paris ditandatangani suatu perjanjian perdamaian. Bangsa Jerman yang kalah perang harus membayar kerugian yang diakibatkan oleh peperangan dan harus kehilangan seperdelapan wilayahnya berikut 6,5 juta penduduknya.    
Pasca-perang keadaan negara Jerman sangat memprihatinkan. Rakyat jatuh miskin, sengsara, dan menderita kekurangan. Tidak ada pekerjaan untuk mereka, tidak ada roti dan pada saat itu tidak ada masa depan. Sementara itu sang kaisar sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas penderitaan rakyat telah pergi meninggalkan Jerman untuk selamanya. Karena kebangkrutan yang payah Wilhelm II pergi ke Belanda, di mana pada tahun 1941 (ditengah berkecamuknya PD II, ia meninggal dunia, nyaris tanpa perhatian dunia).

Jerman Menjadi Republik

Presiden pertama “Republik Weimar”, nama yang diambil berdasarkan tempat sidang pertama Majelis Nasional adalah Fridrich Ebert. Guncangan demi guncangan terjadi pada saat Fridrich Ebert menjabat sebagai presiden pertama Repiblik Weimar, dari pemberontakan dan percobaan kudeta oleh politikus konservatif Wolfgang Kapp dan Jendral Walter von Lüttwitz, serta inflasi yang mencapai tingkatan di luar nalar. Pada bulan Oktober 1923 nilai tukar satu dolar lebih dari 25 milyar Deutsche Mark. Banyak orang yang sebelum perang punya sedikit tabungan harus menghadapi kenyataan, di mana buku tabungan mereka tidak lebih hanya sekedar kertas biasa. Saat itulah ada seorang yang berfikir, kini tibalah saat yang dinanti: Adolf Hitler.
Pada tahun 1932 jumlah pengangguran di Jerman mencapai lebih dari 6 juta jiwa. Dalam parlemen Jerman terdapat lebih dari 10 wakil partai diantaranya Partai Nazi dan Partai Komunis. Antara Partai Nazi dengan Partai Komunis terdapat pertentangan yang sangat kuat, jalanan sudah dikuasai mereka yang bersuara paling keras yaitu Partai Nazi dan Partai Komunis yang sering bentrok berdarah bahkan dengan polisi. Kedua partai ini menguasai kelompok bersenjata militan, yang tidak takut menghadapi pembunuhan dan pembantaian. Tidak heran, pada satu hari di bulan Juli 1932 di Hamburg, 18 orang terbunuh dalam sebuah bentrokan antara Nazi dan Komunis.
Tanggal 30 Januari 1933 Adolf Hitler mewujudkan ambisinya. Presiden Jerman yang sudah uzur “Paul von Hindenburg” yang dalam perang dunia pertama sangat disegani sebagai panglima perang mengangkatnya sebagai kanselir atas tekanan Partai Nazi. Dalam waktu singkat Adolf Hitler berhasil menyingkirkan seluruh lawan politiknya. Tepat tanggal 24 Maret 1933 parlemen mengeluarkan peraturan tentang pelimpahan kekuasaan yang berimbas melemahnya kewenangan parlemen. Dalam peraturan itu tercantum bahwa pemerintah berwenang untuk mengeluarkan undang-undang yang berlaku selama 4 tahun ke depan tanpa harus mendapatkan persetujuan dari parlemen. Sejak saat itu, Republik Weimar benar-benar hancur. Kekuatan baru pun muncul, yaitu: Kekuatan Nazi dengan pemimpin (Führer) baru:  Adolf Hitler.
Rangkaian propaganda pun dijalankan Partai Nazi dalam rangka membangun citra positif di negeri ini dan merebut hati rakyat Jerman. Salah satunya rencana pemerintah agar setiap orang Jerman mampu memiliki mobil. Pada tanggal 6 Oktober 1938 perusahan “VOLKS WAGEN GmbH” didirikan. Harga satu unit mobil 990 Mark. Sebanyak 336.000 orang langsung memesan mobil tersebut, namun tidak seorangpun mendapatkanya, dengan alasan pabrik Volks Wagen (VW) di Wolfsburg harus segera menyesuaikan kebijakan produksinya terhadap tuntutan politik pembangunan senjata Hitler.
Tanggal 27 Februari gedung parlemen Jerman di Berlin dibakar. Gosip yang beredar menyatakan Nazi sendiri yang melakukannya, namun pihak pemadam kebakaran menyatakan bahwa pelakunya adalah seorang anggota komunis “Marinus van der Lubbe” yang dihukum mati setelah menjalani proses pengadilan penuh rekayasa. Pemerintah memanfaatkan kasus pembakaran ini sebagai alasan untuk mengambil tindakan pembasmian. Pemerintah menyalahkan Partai Komunis Jerman sebagai dalang kejadian ini. Pada malam itu juga, 4000 fungsionaris partai ditahan dan Partai Komunis dinyatakan terlarang.
Menteri propaganda Hitler, yaitu Joseph Gobbels mengerahkan para anggota SA pada tanggal 9 sampai 10 November 1938 menjarah took-toko Yahudi, Sinagonge, sekolah, dan permukiman orang Yahudi. Mereka merusak banyak bangunan dan atau membakarnya. Hampir 100 orang mati dibunuh, ribuan lainnya dianiaya. 25 000 orang Jerman yang beragama Yahudi ditangkap.
Dengan kekejamannya Hitler bisa mewujudkan ideologi rasisme yang melecehkan martabat manusia, seperti yang ia jelaskan dalam bukunya “MEIN KAMPF (PERJUANGAN SAYA)” yang ia karang pada saat di penjara akibat percobaan kudeta pada tahun 1925. Hampir tidak seorangpun mengira bahwa ia bisa mewujudkan ide-idenya ini setahap demi tahap.
Akibat kekejaman Partai Nazi, tidak hanya orang Jerman keturunan Yahudi yang harus meninggalkan tanah airnya. Eksodus besar-besaran dari kaum intelektual dan ilmuan, bintang film, sutradara, pengarang, dan filusuf Jerman pun berlangsung.Thomas Mann, Bertolt Brecht, Marlene Dietrich, Fritz Lang, Albert Einstain,dan banyak lagi yang lainnya tidak mau tinggal di Jerman, karena mereka melihat tidak ada lagi masa depan di sana.
Melihat animo eksodus besar-besaran, Partai Nazi mulai menghambat laju emigrasi dengan cara memasukkan mereka ke Kamp-kamp Konsentrasi (Konzentrationslager) dibawah pengawasan SS (Schutzstaffel), yaitu pasukan elite Hitler. Para tawanan tersebut antara lain; Lawan Politik Nazi, Umat Kristen, Gipsi dan Romawi, Kaum Homoseksual, Gembel dan Penjahat Kambuhan. Ratusan ribu manusia yang dibawa ke Kamp ini harus bertahan dalam kondisi yang sangat tidak layak, setiap hari tampak dengan jelas kematian, penyiksaan, dan penyakit. Khusus untuk Umat Yahudi, Kamp Pemusnahan dibangun, dimana di dalamnya ada sekitar 6 juta jiwa manusia tewas.

Saturday, September 9, 2017

Sejarah Nganjuk

Dari berbagai sumber sejarah diketahui bahwa, disekitar tahun 929 M, di Nganjuk, tepatnya di Desa Candirejo Kecamatan Loceret, telah terjadi pertempuran hebat antara prajurit Pu Sendok, yang pada waktu itu bergelar Mahamantri I Hino (Panglima Perang) melawan bala tentara Kerajaan Melayu/Sriwijaya.
Sebelumnya pada setiap pertempuran, mulai dari pesisir Jawa sebelah barat hingga Jawa Tengah kemenangan senantiasa ada dipihak bala tentara Melayu. Kemudian pada pertempuran berikutnya, di daerah Nganjuk, bala prajurit Pu Sendok memperoleh kemenangan yang gilang gemilang. Kemenangan ini tidak lain karena Pu Sendok mendapat dukungan penuh dari rakyat desa-desa sekitarnya. Berkat keberhasilan dalam pertempuran tersebut, Pu Sendok dinobatkan menjadi Raja dengan gelar Sri Maharaja Pu Sendok Sri Isanawikrama Dharmatunggadewa.
Kurang lebih delapan tahun kemudian, Sri Maharaja Pu Sendok tergugah hatinya untuk mendirikan sebuah tugu kemenangan atau Jayastamba dan sebuah Candi atau Jayamerta. Dan terhadap masyarakat desa sekitar candi, karena jasa- jasanya didalam membantu pertempuran, oleh Pu Sendok diberi hadiah sebagai desa perdikan atau desa bebas pajak dengan status sima swatantra :ANJUK LADANG”. Anjuk berarti tinggi, atau dalam arti simbolis adalah : mendapat kemenangan yang gilang gemilang; Ladang berarti tanah atau daratan. Sejalan dengan perkembangan zaman kemudian berkembang menjadi daerah yang lebih luas dan tidak hanya seke­dar sebagai sebuah desa.
Sedangkan perubahan kata “ANJUK” menjadi Nganjuk, karena proses bahasa, atau merupakan hasil proses perubahan morfhologi bahasa, yang menjadi ciri khas dan struktural bahasa Jawa. Perubahan kata dalam bahasa Jawa ini terjadi karena : gejala usia tua dan gejala informalisasi, disamping adanya kebiasaan menambah konsonan sengau “NG” (nasalering) pada lingga kata yang diawali dengan suara vokal, yang menunjukkan tempat. Hal demikian inilah yang merubah kata “ANJUK” menjadi “NGANJUK”.
Angka tahun yang tertera pada prasasti Candi Lor adalah tanggal 12 bulan Caitra tahun 859 Caka atau bertepatan dengan tanggal 10 April 937 M. Kalimat yang menunjuk angka tahun tersebut berbunyi : “SWASTI QAKAWARSATITA 859 CAITRAMASA TITHI DWADASIKRSNAPAKSA”. Yang jika diterjemahkan, kurang lebih berbunyi : Selamat Tahun Saka telah berjalan 859 Tahun Pertengahan pertama bulan Caitra tanggal 12″.
Berdasarkan kajian dan analisis sejarah inilah, maka tanggal 10 April 937 M disepakati sebagai hari Jadi Nganjuk, selanjutnya dengan Surat Keputusan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Nganjuk Nomor : 495 Tahun 1993 ditetapkan sebagai Hari Jadi Kabupaten Nganjuk.
Sejarah Candi Lor & Tradisi Masyarakat Sekitar
Candi Lor merupakan salah satu peninggalan dari dinasti Isyana yang didirikan oleh Mpu Sendok yang merupakan kelanjutan dari kerajaan Medang kamulan. Sebelum Mpu sendok mendirikan kerajaan ini. Mpu sendok merupakan raja dari kerajaan mataram kuno. Sebelumnya, mataram kuno pusat kerajaannya berada di jawa tengah, namun karena ada beberapa faktor yang salah satunya adalah ancaman bencana alam dari gunung merapi. Maka, kerajaan ini dipindahkan ke Jawa Timur yang kemudian di beri nama kerajaan Medang Kamulan. Kata medang merupakan nama lain dari Mataram sedangkan Kamulan berasal dari kata mula yang artinya yang awalnya.
Kemudian Mpu sendok pun mendirikan sebuah tugu di Anjuk ladang dan punden berundak-undak sebagai tanda keberhasilannya yang kemudian disebut candi lor.Candi ini melambangkan perjuangan Mpu Sendok dalam melawan musuhnya dari Melayu yang akhirnya dimenangkan oleh Mpu Sendok. Mpu Sendok juga berjasa kepada masyarakat sekitar yang pada masa itu terbelit pajak. Mpu Sendok kemudian mampu membebaskan rakyat Anjuk Ladang dari pemaksaan pembayaran pajak. Mpu Sendok hanya meminta kepada rakyat Anjuk ladang merawat Jayastamba, yang merupakan tugu kemenangan Mpu Sendok atas Melayu.

Hari kemenangan tersebut jatuh pada tanggal 10 April, yang kemudian ditetapkan sebagai hari jadi kota Nganjuk. Meskipun dijadikan sebagai salah satu pariwisata kabupaten Nganjuk, masyarakat sekitar masih banyak yang menggunakan candi ini sebagai sarana upacara adat,ritual, dan lain sebagainya. Masyarakat sekitar Nganjuk jugamasih menghargai nilai-nilai budaya serta warisan sejarah tempat tinggal mereka sendiri dengan cara ikut serta menjaga candi ini agar tetap lestari dan bisa dijadikan objek wisata yang indah dan diminati banyak orang.
Nganjuk pada masa Belanda

Sejarah pemerintahan kabupaten Pace sangat sulit diungkapkan. Karena kurangnya data yang dapat menjelaskan keberadaannya. Demikian pula halnya dengan mata rantai hubungan antara kabupaten Pace dengan kabupaten Berbek. Sehubungan dengan hal tersebut maka pembahasan tentang sejarah pemerintahan kabupaten Nganjuk dimulai dari keberadaan kabupaten Berbek bahwa Berbek, Godean, Nganjuk dan Kertosono merupakan daerah yang dikuasai belanda dan kasultanan Yogyakarta, sedangkan daerah Nganjuk merupakan mancanegara kasunanan Surakarta.
Timbul pertanyaan, apakah keempat daerah tersebut mempunyai status sebagai daaerah kabupaten yang dipimpin oleh seorang bupati (Raden Tumenggung) atau berstatus lain? Dari silsilah keturunan raja negeri bima, silsilah Ngarso Dalem Sampean Dalem ingkang Sinuwun Kanjeng Sulatan Hamengkubuwono1 atau asal usul Raden Tumenggung Sosrodi-Ningrat Bupati Nayoko Wedono Lebet Gedong Tengen Rajekwesi dapat diperoleh kesimpulan bahwa memang benar daerah-daerah tersebut pada waktu itu merupakan daerah kabupaten.
Adapun penguasa daerah Berbek dan Godean dapat dijelaskan sebagai berikut:
1.    Raja bima mempunyai seoarang putra, yaitu: Haji Datuk Sulaeman, yang kawin dengan putri Kyai Wiroyudo dan berputra 4 (empat) orang yaitu;
-Nyai Sontoyudo
-Nyai Honggoyudo
-Kyai Derpoyudo
-Nyai Damis Rembang
2.    Nyai Honggoyudo berputra:
-Raden Ayu Rongso Sepuh
-Raden Ayu Tumenggung Sosronegoro
-Raden Ngabei Kertoprojo
-Mas Ajeng Kertowijoyo
3.    Raden Tumenggung Sosronegoro I,Bupati Grobongan, mempunyai putra sebanyak 30(tiga puluh) orang, antara lain:
-Raden Tumenggung Sosrodiningrat I (putra I)
-Reden Tumenggung Sosrokoesoemo I (putra VII)
-Raden Tumenggung Sosrodirjo (putra ke XXIII)
4.    Raden Tumenggung Sosrokoesoemo I adalah Bupati Berbek (sebelum pecah dengan Godean) Berputra sebanyak 19 (sembilan belas) orang, antara lain :
-RMT Sosronegoro II(putra ke-2)
-RT. Sosrokoesoemo II (putra ke-11).
Menurut pengamatan ketika RT Sosrokoesoemo I meninggal dunia, telah digantikan adiknya, yakni RT Sosrodirdjo sebagai Bupati Berbek. Setelah itu Berbek di pecah menjadi dua daerah, yaitu berbek dan godean. RT. Sosrodirdjo tetap memimpin daerah Berbek, sedangkan Godean dipimpin oleh keponakannya yaitu RMT. Sosronegoro II (putra kedua dari RT Sosrokoesoemo I). selanjutnya, menurut perkiraan, setelah kedua bupati tersebut surut/pension, kabupaten Berbek yang dipimpin oleh RT. Sosrokoesoemo II (Putra ke-11 dari RT.Sosrokoesoemo I).
Tentang kabupaten Nganjuk dan Kertosono belum dapat diungkapkan lebih kauh, karena dalam perkembangan selanjutnya kedua daerah tersebut bergabung manjadi satu dengan daerah Berbek, yang diperkirakan terjadi sebelum tahun 1852. Adapun bupati Nganjuk sekitar tahun 1830 adalah RT.Brotodikoro, sedangkan bupati Kertosono adalah RT. Soemodipoero.
Nganjuk Sekitar Tahun 1830
Perjanjian Sepreh, pada tanggal 3 juli 1830 atau tanggal 12 bulan suro tahun 1758, telah diadakan suatu pertemuan di Pendopo Sepreh oleh Raad Van Indie Mr.Pieter Markus, Ridder Van de Orde Van de Nederlandsche leeuw, Commisaris ter Regelling de Vorstenlanden untuk mengatur daerah-daerah mancanegara kesunanan Surakarta atau kesultanan Yogyakarta, sebagai tindak lanjut dari persetujuan antara Neterlandsch Gouverment dengan yang mulia saat itu akan ditempatkan dibawah pengawasan dan kekuasan Nederlandsch Gouverment.
Keesokan harinya, pertemuan tersebut telah menghasilkan “Perjanjian Sepreh Tahun 1830” yang ditandatangani dengan teraan-teraan cap dan bermaterai oleh 23 Bupati dari residensi kediri dan residensi Madiun, dengan disaksikan oleh Raad Van Indie, Komisaris yang mengurus daerah-daerah kraton serta tuan-tuan Van Lawick Van Pabst dan J.B. de Solis, residen Rembang. Berdasarkan persetujuan tersebut mulai saat itu Nederlandsch Gouverment melaksanakan pengawasan tertinggi dan menguasai daerah-daerah mancanegara. Apabila dicermati, ternyata salah satu dari 23 Bupati yang telah ikut menandatangani perjanjian tersebut adalah raden Tumenggung Brotodikoro, regency van Ngandjoek. Mengapa demikian hal itu dapat dijelaskan sebagai berikut:
Bahwa yang mengikuti pertemuan di Pendopo Sepreh hanyalah bupati-bupati mancanegara dari Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta, sedangkan bupati Berbek dan bupati Kertosono, sebagaimana diuraikan dimuka, adalah merupakan bupati dari daerah-daerah yang telah dikuasai dan mulai tunduk dibawah pemerintah belanda jauh sebelumnya.
Dari uraian tersebut diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa sejak adanya Perjanjian Sepreh 1830, atau tepatnya tanggal 4 juli1830, maka semua kabupaten di nganjuk (Berbek, Kertosono dan Nganjuk ) tunduk dibawah kekuasaan dan pengawasan Nederlandsch Gouverment.
Nganjuk Setelah Perjajian Sepreh, pada tanggal 31 Agustus 1830, atau hampir dau bulan setelah Perjanjian Sepreh, pemerintahan Hindia Belanda mengadakan penataan-penataan / pengaturan-pengaturan atas kabupaten-kabupaten yang telah berada dibawah pengwaasan dan kekuasaanya. Tentang penataan ini dapat dilihat dalam surat pemerintahan Hindia Belanda Y1.La.A.No.1, Semarang, 31 Agustus 1830, yang berisikan tentang hasil konperensi dari Gubernur Jendral dengan komisaris-komisaris yang mengurus / mengatur daerah-daerah keratin.
Dari hasil konperensi tersebut, kemudian keluar satu keputusan tetang rencana dari Pemerintah Hindia Belanda, yang antara lain menerangkan bahwa:
Pertama: Menentukan bahwa daerah mancanegara bagian timur akan terdiri dari dua residensi, yaitu Residensi Kediri dan Residensi Madiun
Kedua: Bahwa Residensi Madiun akan terdiri dari kabupaten-kabupaten: Kedirie, Kertosono, Ngandjoek, Berbek, Ngrowo dan kalangbret. Dan selanjutnya dari Distrik-distrik Blitar, Trenggalek, kampak dan yang lebih timur sampai dengan batas-batas dari Malang; baik batas dari kabupaten-kabupaten maupun distrik juga akan diatur kemudian.
Ketiga: Bahwa Residensi Kediri akan terdiri dari kabupaten-kabupaten :Kedirie, Kertosono, Ngandjoek, Berbek, Ngrowo dan Kalangbret. Dan selanjutnya dari Distrik-dastrik Blitar, trenggalek, Kampak dan yang lebih ke Timuar sampai dengan batas-batas dari Malang: baik batas dari Kabupaten-kabupaten maupun Distrik-distrik juga akan diatur kemudian. Sebagai realisasinya, pada kurun waktu empat bulan kemudian ditetapkanlah Resolusi No 10 Tanggal 31 Desember 1830, yang berisikan tentang pelaksanaan dari Skep. Tanggal 31 Agustus 1830 tersebut di atas. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam isi Resolusi tersebut, khususnya pada bagian keempat, yang antara lain berbunyi sebagai berikut :
Keempat: juga sangat disayangkan, dari Skep, tanggal 31 Agustus Y1. La. No 1 terpaksa disetujui (diperkuat) dua Residensi dalam kabupaten-kabupaten:
a.    Residensi Madiun dalam kabupaten - kabupaten:
Madiun
Poerwo-dadie
Toenggoel
Magetan
Gorang-gareng
Djogorogo
Tjaruban
b.    Residensi Kedirie dalam kabupaten - kabupaten:
Kedirie
Nganjoek
Berbek
Kertosono
Dari hasil pengamatan kedua dokumen tersebut, dapat diketahui bahwa setelah penyerahan pengawasan dan kekuasaan atas daerah-daerah mancanegara oleh Suhunan dari surakarta dan Sultan dari Yogyakarta kepada pemarintah Hindia Belanda, maka pemerintah Hindia Belanda telah menerapkan tiga wilayah pemerintahan yaitu:Kabupaten Ngandjoek, kabupaten Berbek dan kabupaten Kertosono.
Tentang para penjabat Bupati dari ketiga kabupaten tersebut , ditetapkan dengan akte Komisaris Daerah-daerah yang telah diambil alih, yang ditandatangani di Semarang 16 juni 1831, oleh van Lawick van Pabst, dengan tiga personalia Bupati sebagai berikut :
Raden Toemenggoeng Sosrokoesoemo sebagai Bupati Berbek
Raden Toemenggoeng Brotodikoro sebagai Bupati Nganjuk dan
Raden Toemenggoeng Soemodipoero sebagai Bupati Kertosono
Penetapan pejabat-pejabat Bupati tersebut bersamaan dengan penetapan pejabat Bupati yang lain dalam Residensi kedirie: Bupati Kedirie Raden Mas Toemenggoeng Ario Djojoningrat; Bupati Ngrowo – Radeen DIpati Djajengningrat; Bupati Kalangbret – Radeen Toemenggoeng Mangoondikoro; dan Bupati Srengat Radeen Ngabey Mertokoesoemo.
Air terjun Sedudo
Dibalik Mitos Air Terjun Sedudo Nganjuk Banyak yang menyakini jika air terjun Sedudo mampu membuat awet muda siapa saja yang mandi disana. Ada apa dibalik mitos itu?
Jika kita mendengar wisata air terjun Sedudo yang terletak di Desa Ngliman Kec Sawahan, akan selalu muncul dibenak kita jika air terjun ini mempunyai banyak khasiat, salah satunya adalah menjadi obat awet muda.
Hal ini banyak diyakini masyarakat sekitar, juga masyarakat diluar Nganjuk. Terbukti jika wisata air terjun ini tak pernah sepi dari pengunjung. Baik yang hanya sekedar ingin menikmati pemandangannnya yang indah, atau memang sengaja ingin membuktikan mitos yang banyak berkembang itu.Namun tak banyak yang tahu apa yang menyebabkan air terjun yang berada di Kab Nganjuk bagian selatan itu mempunyai mitos seperti ini.
Kalangan sejarah menilai,mitos ini berdasar atas sejarah terbentuknya air terjun itu dan kajian ilmiah. Ada sejarah dan perkiraan secara ilmiah tentang mitos itu. Dari tinjauan sejarah, saat itu air terjun Sedudo dibuat oleh salah satu tokoh warga sekitar bernama Sanak Pogalan.
Ia merupakan petani tebu yang harus menelan kecewa dari peenguasa jaman itu. Karena kekecewaannya inilah, ia kemudian menjadi yang mukim pertama disekitar sumber air terjun Sedudo. Dalam tapanya, ia berniat untuk menenggelamkan Kota Nganjuk dengan membuat sumber air yang sangat besar.
’’Dia bersumpah untuk menenggelamkan desanya itu. Dan dibuatlah sumber air yang sangat besar,’’ Karena kesucian Sanak Pogalan inilah, sebagian warga meyakini jika sumber air terjun Sedudo, mengandung beberapa khasiat, salah satunya menjadi obat awet muda.
Selain tentang sejarah, ia juga menduga jika secara ilmiah khasiat obat awet muda dari air terjun Sedudo ini bisa diraba. Pada jaman kerajan dulu, ada tokoh bernama Kyai Curigonoto yang sengaja mengasingkan diri di atas lokasi air terjun.
Dalam pengasingannya itu, Kyai Curigonoto berniat untuk menjadikan hutan itu sebagai kebun rempah-rempah. Karena menganggap jika tanah hutan, bisa menjadi mediayang sangat bagus untuk mengembangkan rempah-rempah yang saat itu menjadi kebutuhan pokok masyarakat. Kyai Curigonoto lantas meminta Raja Kerajaan Kediri untuk mengirim rempah-rempah ke tempat pengasingannya itu. Namun, tak begitu jauh dari tujuannya, tiba-tiba gerobak-gerobak yang mengangkut rempah-renpah itu terguling diantara sumber air terjun Sedudo. ’’Lalu rempah-rempah ini tumbuh subur hingga memenuhi hutan yang menjadi tempat sumber air terjun Sedudo,’’.Sehingga, air yang mengalir keair terjun Sedudo banyak mengandung rempah-rempah itu.’’Secara otomatis, rempah-rempah ini mampu menjadi obat yang multi khasiat, salah satunya adalah memmbuat wajah tampak bersih. Sehingga kelihatan awet muda,’’
Mitos ini juga dijunjung tinggi oleh Pemkab Nganjuk sendiri. Buktinya, setiap bulan Syuro, Pemkab Nganjuk menggelar ritual ‘Siraman’. Dimana akan banyak masyarakat Nganjuk yang mandi bersama di lokasi wisata air terjun ini. ’’Memang budaya siraman ini menjadi agenda tahunan Pemkab Nganjuk. Selain untuk menarik wisatawan, juga untuk melestarikan budaya yang sudah ada ratusan tahun silam itu,
Air terjun Singokromo
Air Terjun Singokromo memang masih perawan dan alami sehingga harus berjalan kaki melewati jalan setapak di dalam hutan untuk mencapainya. Sejumlah warga memilih untuk merayakan libur panjang ini di Air Terjun Singokromo.
Puncak Gunung Wilis di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, menyimpan sejuta pesona alam yang luar biasa. Selain memiliki Air Terjun Sedudo, di balik gunung tersebut ada air terjun lain yang tidak kalah indah. Namanya Air Terjun Singokromo yang masih perawan dan sangat alami.
Air Terjun Singokromo merupakan satu dari 10 deretan air terjun yang ada di puncak Gunung Wilis. Letaknya lebih tepat di Desa Ngliman, Kecamatan Sawahan, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur.
Kondisi air terjun ini masih sangat alami dan belum tersentuh pembangunan pemerintah sedikitpun. Tak heran, jalan menuju objek wisata satu ini hanya berupa jalan setapak dengan menuruni lembah di dalam hutan.
Namun, Anda tak perlu khawatir. Rasa lelah setelah berjalan kaki sejauh 1 kilometer akan terobati setelah sampai di bawah air terjun. Ya, selain indah, air terjun setinggi lebih dari 50 meter ini memang benar-benar masih perawan dan sangat alami. Sejumlah pengunjung memilih mengisi hari libur Tahun Baru mereka di Air Terjun Singokromo karena belum terlalu banyak tangan manusia yang menjamah dan mengotorinya.
“Tempatnya masih bersih, sejuk, alami. Udaranya masih enak,” kata Arifin, salah seorang pengunjung.
Sesuai namanya, singo berarti “singa atau harimau” dan kromo berarti “kawin”, dahulunya air terjun ini merupakan tempat yang dikenal angker. Jarang ada manusia yang berani datang karena merupakan tempat berkumpul dan kawinnya harimau di lereng Gunung Wilis.
Berbagai mitos dan kepercayaan mistis terhadap air terjun ini juga masih sangat lekat hingga sekarang. Terbukti, setiap malam bulan purnama banyak warga yang masih mendatangi air terjun ini untuk mengambil airnya karena diyakini ampuh untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit. Sementara, bagi yang belum memiliki jodoh, dengan mandi Air Terjun Singokromo juga dipercaya akan segera bertemu dengan jodohnya.
“Masih banyak yang ritual di sini, terutama setiap malam bulan purnama,” tutur Tulus, juru kunci Air Terjun Singokromo.
Anda boleh percaya atau tidak, tapi itu merupakan keyakinan yang sampai kini masih melekat bagi sebagian masyarakat. Namun, terlepas dari hal tersebut, Air Terjun Singokromo merupakan satu dari sepuluh deretan air terjun yang ada di puncak Gunung Wilis. Dua di antaranya sudah bisa dijangkau wisatawan, seperti Air Terjun Sedudo dan Air Terjun Singokromo.
Sementara delapan air terjun lainnya hanya bisa dijangkau oleh warga Desa Ngliman dengan berjalan kaki hingga puluhan kilometer. Itupun lokasinya berada di puncak gunung dengan area sekeliling masih sangat curam, seperti Air Terjun Segunting, Air Terjun Banyuselawe, Air Terjun Banyuiber, Air Terjun Cagak, Air Terjun Selanjur, Air Terjun Jeruk, Air Terjun Banyupait, dan Air Terjun Cemoro Kandang.
Berikut adalah legenda asal usul Air Terjun Sedudo
Pada zaman kerajaan Kediri, sang raja memiliki seorang putri yang mempunyai penyakit aneh seperti cacar namun sangat menjijikan bagi yang melihatnya, akhirnya oleh sang raja yang tidak lain ayahnya sendiri putri tersebut di suruh untuk berobat ke sebuah padepokan yang berada di daerah Pace. Pemilik padepokan sekaligus teman dari raja ini disuruh menyembuhkan dan menyembuyikan identitas sang putri dari rakyat sekitar. Akhirnya setiap pagi putri di mandikan di air terjun Roro Kuning untuk menyembuhkan penyakit sekaligus pada pagi hari air terjun roro kuning belum dipakai oleh rakyat sekitar.
Kian hari penyakit putri berangsur – angsur sembuh, paras cantiknya kian terlihat kembali, anak dari pemilik padepokan tersebut mulai mengetahui siapa si putri ini. Bahwa si putri tersebut adalah anak dari raja Kediri yang sedang berobat di padepokan milik ayahnya. Akhirnya kedua anak dari pemilik padepokan tersebut mengejar hati dari putri kerajaan Kediri.
Pada akhirnya ketiga insan tersebut merajut cinta, namun cerita barulah bermulai ketika si putri tersebut sembuh dari penyakitnya. Akhirnya sang raja dari kerajaan Kediri menjodohkan putri tersebut dengan calon pilihan sang ayah yang tidak lain adalah raja dari kerajaan Kediri, lalu kedua anak dari pemilik padepokan tesebut patah hati berat. Akhirnya sampai berbulan - bulan kedua anak tersebut mengurung diri di sebuah kamar, hingga suatu ketika mereka keluar dari kamar dengan sikap yang berubah total. Dulu yang begitu ramah dengan orang sekitar kini kedua anak tersebut tidak memiliki sopan santun sama sekali terhadap orang lain semenjak peristiwa tesebut.
Karena sikap yang dimiliki oleh kedua anaknya, akhirnya membuat pemilik padepokan tersebut yang tidak lain adalah ayahnya sendiri mengutus kedua anak tersebut bersemedi untuk melupakan jalinan kasih dengan putri kerajaan Kediri, namun sebelum melakukan semedi kakak beradik ini mengucapkan sebuah ikrar sang adik tidak akan pernah sopan santun lagi kepada orang lain sedangkan sang kakak akan selalu hidup melajang.
Sang kakak bertapa di sebuah air terjun tertinggi maka dari itu air terjun yang berada paling tinggi di namakan air terjun Sedudoyang artinya “Sing mendudo” atau dalam bahasa Indonesia artinya “yang melajang”, sedangkan adiknya bertapa di air terjun SingoKromo yang artinya “Sing Ora Kromo” atau dalam bahasa Indonesia artinya “yang tidak memiliki sopan santun”. Letak dari air terjun SingoKromo berada di bawah airSedudo. Nama dari kedua air terjun tersebut di ambil dari janji mereka sewaktu akan melakukan semedi dulu.